Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mematok target pemanfaatan gas alam 22 persen dalam bauran energi nasional pada tahun 2025. Sejauh ini, persentase gas alam masih sebesar 19 persen.

Arifin mengatakan perlu usaha mencari energi baru untuk penuhi kebutuhan energi yang meningkat. Dalam pada itu, transisi energi dari energi fosil menjadi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang lebih bersih, rendah emisi, dan ramah lingkungan, ia sebut telah menjadi arah kebijakan energi nasional.

Salah satu yang menjadi proyeksi optimalisasi adalah gas metan hidrat. Di Indonesia, kata Arifin, pada penelitian tahun 2004 telah ditemukan potensi cadangan metan hidrat yang volumenya diperkirakan mencapai lebih dari 850 Trilliun Cubic Feet (Tcf).

“Jumlah tersebut setara dengan delapan kali lipat cadangan gas alam saat ini, sehingga kita berharap sumber energi alternatif baru ini akan mendukung ketahanan energi nasional,” kata Arifin pada Legal and Policy Framework for the Development of Offshore Methane Hydrate as the Indonesia’s Future Transitional Clean Energy secara daring, Selasa (8/6).

Dari total volume 850 Tcf cadangan metan hidrat tersebut, potensi besar ditemukan di dua lokasi utama, yaitu perairan selatan Sumatera sampai ke arah barat laut Jawa sebesar 625 Tcf dan di Selat Makassar sebanyak 233,2 Tcf.

Selain di lokasi yang disebut, metan hidrat juga tersebar di daerah lepas pantai Simeuleu, Palung Mentawai, Selat Sunda, Busur Depan Jawa, Lombok Utara, Selat Makassar, laut Sulawesi, Aru, Misool, Kumawa, Wigeo, Wokam, dan Salawati.

Pengembangan gas metan hidrat, kata Arifin, merupakan opsi energi yang lebih bersih bila dibandingkan dengan minyak bumi dan batu bara. Ekstraksi dan produksi gas metan hidrat dinilai akan mampu menjadi salah satu sumber pendapatan negara dan berperan dalam bauran energi.

“Indonesia perlu segera mengembangkan di mana ekstraksi dan produksinya akan memberikan solusi penyediaan energi baru, menjadi salah satu sumber pendapatan negara, dan dapat berperan dalam bauran energi masa depan Indonesia,” tambah Arifin.

Akan tetapi, pemerintah masih harus meneliti gas alam ini. Perlu ada analisis hukum dan kebijakan yang terintegrasi untuk memastikan pengembangan gas metan hidrat tetap sejalan dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.

Melihat urgensi pemanfaatan gas metan hidrat, Arifin menegaskan perlunya memperkuat kerja sama multi-sektoral dalam mendorong metan hidrat sebagai kerangka menuju transisi energi. Pengembangannya harus tetap mempertimbangkan banyak faktor.

“Pengembangan metan hidrat harus mempertimbangkan karakter fisik gas hidrat, isu lingkungan hidup, teknologi dalam mengekstraksi metan hidrat, serta nilai keekonomian dan kemampuan industri hulu migas nasional,” ujarnya.

Metan hidrat, dikutip dari worldoceanreview.com, adalah hidrokarbon yang terperangkap dalam struktur air kristal. Ia hanya stabil pada tekanan lebih dari 35 bar dan pada suhu rendah. Dengan demikian, dasar laut merupakan lokasi yang ideal untuk pembentukannya. Dasar laut hampir selalu dingin homogen dengan suhu 0 sampai 4 derajat Celcius. Selain itu, pada kedalaman sekitar 350 meter, tekanan air cukup untuk menstabilkan hidrat.

Belum ada teknologi produksi yang berhasil dikembangkan secara mapan dan baku hingga saat ini. Uji produksi dari laut dalam (Deepwater Development) sudah dilakukan di Nankai Trough, Jepang sejak tahun 2001 dan juga di area lain di sejumlah negara seperti Cina, Korea, India, Kanada, USA dan Rusia.

“Untuk itu, kami sangat mengharapkan dukungan stakeholder, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mencapai tujuan transisi energi, termasuk potensi pemanfaatan gas metan hidrat untuk mendukung ketahanan energi nasional sekaligus mencapai target penurunan emisi Gas Rumah Kaca,” tandas Arifin. [Ananta Damarjati]