Program Kami

RIB - Climate and Society

Pendekatan kami

research to action

 

Kami memulai sebuah inisiatif berdasarkan data dan informasi yang lengkap. Data dan informasi ini kami peroleh dari beberapa cara: analisis data sekunder, asessment lapangan, dan atau penelitian mendalam.

Kami kemudian membangun komunikasi, koordinasi, dan kemitraan dengan parapihak yang berkepentingan, baik pemerintah, korporasi, masyarakat lokal, dan pihak lainnya.

Kami akan merancang kembali secara bersama-sama untuk mengembangkan inisiatif yang sudah ada, dan memastikan bahwa inisiatif tersebut bisa diaplikasikan di lapangan.

Bersama masyarakat dan parapihak, kami akan mengimplementasikan inisiatif untuk mendorong perubahan dan mencapai tujuan perbaikan. Sepanjang implementasi, kami akan menjadikannya sebagai laboratorium belajar para pihak, proses penelitian dan pembelajaran.

Penelitian dan catatan pembelajaran akan kami gunakan untuk perbaikan inisiatif, perluasan inisiatif, perbaikan kebijakan publik, serta pengembangan ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan. 

Program Penelitian Sosial untuk Pembangunan Berkelanjutan

Rumah Indonesia Berkelanjutan secara reguler melakukan berbagai penelitian sosial dalam rangka mendukung parapihak, khususnya pemerintah pusat dan daerah, dalam melahirkan kebijakan publik yang lebih baik. Disamping itu, RIB juga bekerjasama dengan berbagai pihak melakukan berbagai penelitian sosial dalam rangka memperkuat pembangunan berkelanjutan.

Penelitian sosial yang kami lakukan menggunakan pendekatan kualitatif (studi kasus, etnografi, extended case method, dll.), kuantitatif (survey, pembuatan indeks) dan metode campuran (mixed methods), serta berbagai turunannya seperti riset kebijakan (policy research), dan sebagainya.

Penelitian sosial yang kami lakukan, selain berbasis program strategis, kami juga secara kolaboratif melakukan penelitian sosial untuk berbagai isu terkait dengan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Program Strategis Kami

PRK dan Perubahan Iklim

Dunia sedang dilanda krisis iklim. Krisis iklim ini berkaitan dengan penomena pemanasan global yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas rumah kaca (GHG) di udara. Peningkatan emisi GHG akan mengancam kehidupan manusia di bumi, menurunnya produksi pangan, meningkatnya berbagai bencana berbasis iklim, dan sebagainya. 

Pembangunan Rendah Karbon (PRK) merupakan salah satu pendekatan untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. PRK membutuhkan transformasi sosial dan ekonomi untuk memastikan upaya penanganan perubahan iklim berjalan dengan baik. Transformasi green economy merupakan sebuah keharusan.

Indonesia bersama komunitas internasional sudah berkomitmen dalam mengurangi produksi karbon dengan cara melakukan transformasi pembangunannya menuju Pembangunan Rendah Karbon (PRK), yang sudah masuk dalam RPJMN 2020-2024.

Tantangan ke depan adalah bagaimana memperkuat transformasi ini dalam sejumlah sektor yang mempunyai kontribusi besar dalam emisi GHG, termasuk sektor kehutanan dan penggunaan lahan, energi, pertanian, industri dan penggunaan produk industri, sampah, dll.

Rumah Indonesia Berkelanjutan (RIB) bersama para pihak berupaya memperkuat PRK ini melalui:

1. Penelitian sosial tentang transformasi sosial dan ekonomi dalam rangka penguatan PRK di Indonesia.

2. Membangun kemitraan strategis dengan berbagai pihak di tingkat lokal, nasional dan global dalam memperkuat PRK.

3. Membangun dialog kebijakan publik dan penguatan kebijakan fiskal untuk mendukung pembangunan rendah karbon. 

4. Implementasi program perubahan iklim di tingkat tapak bersama masyarakat, korporasi, pemerintah, dan sebagainya.

Desa Berkelanjutan 

Desa adalah ruang hidup hampir setengah penduduk Indonesia. Desa menyediakan semua sumberdaya yang membuat warganya bisa hidup secara layak. Namun, kini desa menghadapi dua persoalan serius: urbanisasi dan dampak perubahan iklim.

Mengapa terjadi urbanisasi? Salah satunya adalah karena potensi desa belum dikelola dengan baik, terjadinya pemiskinan struktural di desa, serta berbagai kondisi yang membuat pembangunan desa terhambat.

Perubahan iklim berdampak berat pada kehidupan desa, berupa ancaman terhadap produksi pangan di desa. Karena itu, perlu adanya upaya untuk memajukan desa, dan menangani dampak perubahan iklim di tingkat desa.

Melalui penelitian, kajian, peningkatan kapasitas, dan penguatan kemitraan multipihak, Rumah Indonesia Berkelanjutan mendorong pemberdayaan desa dalam berbagai arena pembangunan, termasuk:

1. Penguatan pemerintah desa dalam tatakelola (governance) dan akuntabilitas pengelolaan dana desa berbasis pada tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs Desa).

2. Memperkuat adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat desa.

3. Peningkatan kapasitas BUMDes untuk memperkuat basis ekonomi desa.

3. Pemberdayaan masyarakat desa dalam berbagai arena sosial dan ekonomi. 

 

Kota Inklusif dan  Adaptif Iklim

Kota merupakan ruang hidup lebih dari sebagian masyarakat Indonesia. Ada kecenderungan ke depan bahwa proses pembentukan kota-kota baru akan berjalan seiring dengan pertambahan penduduk dan urbanisasi. Perubahan ini akan membawa dampak secara sosial, ekonomi, dan daya dukung sumberdaya.

Perubahan iklim telah berdampak buruk pada kehidupan kota. Di satu sisi, kota merupakan salah satu penyumbang emisi GHG terbesar melalui penggunaan energi dan gaya hidup kota yang boros karbon. Di sisi lain, perlu ada upaya menciptakan kota yang inklusif bagi semua warganya.

Karena itu, transformasi pembangunan kota yang ramah lingkungan dan inklusif menjadi sebuah kebutuhan di kota. Pembangunan tata kota yang ramah lingkungan akan membantu dalam menangani dampak buruk perubahan iklim di tingkat kota dan tingkat global.

Sedangkan pembangunan kota yang inklusif akan membantu mengurangi dampak kemiskinan urban. Perubahan iklim secara langsung berdampak pada peningkatan kemiskinan urban saat produksi pangan terganggu dan harga pangan meningkat. 

Rumah Indonesia Berkelanjutan berkepentingan untuk memperkuat transformasi kota yang adaptif terhadap perubahan iklim dan inklusif terhadap warganya melalui:

1. Penelitian sosial tentang transformasi kota menuju kota adaptif iklim dan inklusif.

 2. Membantu perbaikan kebijakan pemerintah kota dalam rangka memperkuat adaptasi iklim dan inklusi sosial.

3. Memperkuat program adaptasi iklim dan inklusi sosial kota melalui kemitraan multipihak.