Sustainable Development Goals (SDGs) sudah menjadi kerangka yang digunakan oleh pemerintah Indonesia dalam pembangunan desa berkelanjutan. Kementerian Desa dan Daerah Tertinggal sudah merumuskan indikator-indikator untuk SDGs Desa. Tentu saja, tujuan pembangunan berkelanjutan ini adalah framework global yang digunakan oleh semua negara yang dideklarasikan tahun 2015. Secara global, SDGs memuat 17 tujuan, 169 target dan 241 indikator yang harus dicapai pada tahun 2030.

Pintu Selamat Datang Desa Bukit Batu, Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah

Di tingkat masyarakat, isu SDGs ini masih menjadi isu asing dan jarang terdengar. Mayoritas pemerintah desa dan perangkat desa di Indonesia belum memahami apa itu SDGs dan bagaimana mengintegrasikan dalam perencanaan pembangunan desa. Kelihatannya, diperlukan sosialisasi yang lebih luas oleh pemerintah untuk membumikan SDGs ini sehingga bisa digunakan sebagai indikator capaian pembangunan di tingkat desa.

Tanggal 19 Nopember 2020, Direktur Rumah Indonesia Berkelanjutan Dr. Cand. Yusdi Usman memfasilitasi kegiatan pelatihan dan peningkatan kapasitas tentang SDGs kepada perangkat Desa Bukit Batu, Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Perangkat desa ini mempunyai antusias yang sangat tinggi untuk memahami tentang SDGs. Kepala Desa Bukit Batu, Bapak Herianto berharap bahwa pelatihan ini bisa menjadi awal yang bagus bagi desa Bukit Batu untuk mempersiapkan perencanaan desa yang menggunakan indikator SDGs dalam RPJMDes.

Perangkat Desa mengisi kertas metaplan untuk pemetaan isu-isu strategis di desa
Hasil pemetaan isu-isu strategis desa berbasis indikator SDGs

Apalagi, desa Bukit Batu menjadi salah satu desa yang berada dalam Kawasan Industri Strategis Nasional Mempawah. Kehadiran berbagai industri di kawasan ini akan menjadi ancaman bagi masyarakat desa. Warga desa akan tersisih oleh proses industrialisasi yang berlangsung cepat di kawasan ini jika tidak disiapkan kapasitasnya sejak sekarang. Karena itu, Rumah Indonesia Berkelanjutan berencana membantu sejumlah desa di wilayah industri strategis ini dalam rangka meningkatkan kapasitas aparat desa dan warga untuk mampu beradaptasi dan mendapatkan manfaat dari kehadiran industri di wilayah ini.

Saat ini, sejumlah industri sudah berdiri di wilayah kawasan industri strategis nasional Sungai Kunyit ini, termasuk pelabuhan internasional PT Pelindo, Smelter Bauksit PT Borneo Alumina Industri (BAI) yang sedang dalam proses pembangunan dan pembebasan lahan, dan berbagai perusahaan lainnya.

Pelatihan satu hari ini tentu saja tidak memadai. Kelapa Desa Bukit Batu meminta tim Rumah Indonesia Berkelanjutan untuk memfasilitasi proses peningkatan kapasitas selanjutnya, sehingga mereka bisa mengintegrasikan SDGs ke dalam perencanaan pembangunan desa. Ke depan diharapkan bahwa masyarakat desa akan mampu beradaptasi dengan perubahan dan industrialisasi yang berlangsung cepat di wilayah ini. (Admin)