Indonesia mengalami pandemi covid19 sejak tanggal 2 Maret 2020 saat Presiden Joko Widodo mengumumkan dua kasus pertama infeksi positif covid19. Pengumuman oleh Presiden Jokowi ini mengakhiri desas-desus dan spekulasi apakah covid19 sudah masuk ke Indonesia atau belum. Sejak itulah Indonesia masuk dalam negara terjangkit wabah pandemi terbesar saat ini.

Tantangan utama dalam pandemi ini adalah bagaimana menangani pandemi di satu sisi dan mempertahankan ekonomi jangan terpuruk di sisi lain. Penanganan pandemi bertujuan untuk mengurangi angka penularan dan tingkat kematian, serta memastikan sistem kesehatan bisa berfungsi dengan baik. Jika angka penularan terus meningkat, maka sangat besar kemungkinan sistem kesehatan kita menjadi kolaps.

Sampai tulisan ini dibuat (19/1/2020), kasus positif covid19 di Indonesia hampir mencapai angka 1 juta orang, tepatnya 917.015 kasus, dengan penambahan harian yang masih sangat tinggi. Bahkan, tanggal 16 Januari 2021, Indonesia mencapat jumlah kasus tertinggi sebesar 14.224 kasus. Jumlah meninggal mencapai angka 26.282 orang.

Meskipun belum ada data resmi yang dikeluarkan pemerintah, penurunan ekonomi yang terjadi selama sepuluh bulan terakhir berdampak sangat besar pada kondisi ekonomi keluarga yang berada di bawah garis kemiskinan dan sedikit di atas garis kemiskinan (rentan miskin). Tingkat kerentanan masyarakat bawah ini semakin besar saat adanya kebijakan pembatasan mobilitas penduduk atau dikenal dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Meskipun kemudian, pemerintah membuat sejumlah kelonggaran dalam PSBB supaya ekonomi masyarakat, khususnya kelas bawah, tidak semakin terpuruk.

Manajer Program Pembangunan Sosial RIB, Jevriza Syahputra, mengatakan bahwa tingkat kerentanan masyarakat bawah semakin membesar seiring dengan perkembangan pandemi yang belum menemukan titik ujungnya ini. Menurut Jevri, terdapat sejumlah kelompok masyarakat yang sangat rentan saat pandemi ini menyerang, termasuk keluarga yang berada di bawah garis kemiskinan, keluarga yang dekat dengan garis kemiskinan, dan kepala keluarga perempuan miskin.

Saat ini, lanjut Jevri, berbagai bencana lain yang melanda Indonesia, termasuk gempa bumi, banjir, dan lain-lain, menambah berat tingkat kerentanan banyak keluarga terdampak. “Pandemi covid19 dan bencana lainnya merupakan faktor-faktor yang mempercepat kerentanan banyak keluarga menjadi lebih miskin”, jelas Jevri.

Jevri menyarankan kepada pemerintah, khususnya Kementerian Sosial, Kementerian Koperasi UKM, dan kementerian/lembaga terkait, untuk memaksimalkan program bantuan sosial dan pemulihan ekonomi kecil. Bagi masyarakat miskin, bantuan sosial menjadi penyambung nyawa meskipun jumlahnya kecil. “Kita berharap supaya penyaluran bansos ke depan bisa berjalan secara lebih akuntabel”, tutup Jevri. (Admin RIBNews)

(Foto featured: channelnewsasia.com)