Isu ekonomi hijau (green economy), pembangunan rendah karbon (low carbon development) dan berbagai varian konsepnya, sudah menjadi isu penting di tingkat global. Namun demikian, isu ini belum menyentuh pelaku ekonomi di tingkat mikro, kecil dan menengah. Pelaku UMKM masih berkutat pada upaya memperkuat keuangan inklusif, terutama memperluas akses keuangan dalam rangka menggerakkan ekonomi bawah ini. Demikian dikatakan CEO PT. Permodalan BMT Ventura, Saat Suharto Amjad, minggu lalu dalam diskusi santai dengan pimpinan IAP2 Indonesia, Aldi Muhammad Alizar dan Yusdi Usman di kantornya di Equity Tower, kawasan SCBD, Jakarta.

Meskipun belum bersentuhan dengan isu-isu green economy, apa yang diperjuangkan oleh Saat Suharto melalui jaringan Perhimpunan BMT Indonesia adalah sebuah upaya untuk memperkuat keuangan inklusif dan pengentasan kemiskinan di Indonesia. Saat mengakui bahwa irisan isu green economy di tingkat bawah mulai dilakukan dalam sektor pertanian. “Ada kecenderungan berkembangnya pertanian organik yang didukung pembiayaannya dari BMT”, tambah Saat dalam pertemuan itu.

Dalam webinar IAP2 Indonesia hari ini (4/2/2021) yang menghadirkan Menteri PPN/Bappenas, Dubes Jerman untuk Indonesia, Ketua BKSAP DPR RI dan sejumlah pelaku bisnis nasional, Saat Suharto mengatakan bahwa BMT telah berperan besar dalam peningkatan akses pelaku usaha kecil, mikro dan menengah kepada keuangan inklusif.

Saat ini, lanjut Saat, data Perhimpunan BMT Indonesia sampai bulan September 2020, memperlihatkan bahwa jumlah BMT yang tergabung dalam Perhimpunan BMT Indonesia yang dipimpinnya adalah sebanyak 322 BMT yang mempunyai kantor sebanyak 1.223 kantor. Jumlah anggota yang dilayani adalah sebanyak 7.714.124 anggota. Total aset yang dikelola sebesar Rp. 17.444.535.672.254,- atau 17,4 Triliun rupiah.

Jumlah ini tentu saja merupakan sebuah kekuatan ekonomi kecil yang tidak kecil. Karena itu, Saat menambahkan bahwa banyak perubahan dan kemajuan yang dicapai dari upaya penguatan keuangan inklusif ini, termasuk:

  1. BMT telah menjadi solusi keuangan dan pembentukan keluarga produktif.
  2. BMT dan koperasi-koperasi di Indonesia telah menjabarkan keuangan inclusion.
  3. BMT memperkuat saving education sehingga masyarakat menjadi gemar menabung.
  4. BMT memberi pembiayaan produktif.
  5. Produk BMT telah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sehingga sesuai dengan kultur dan keunikan bisnis komunitas.

Sebagai sebuah gerakan sosial dan bisnis, ke depan BMT akan membesarkan porsi pembiayaan ke sektor pertanian dan industri kecil. Seiring dengan upaya ini, maka Saat Suharto mengajak para pihak untuk berpartisipasi mengentaskan kemiskinan dengan dana donasi, hibah, infaq, social fund, crowd funding, dan lain-lain melalui jaringan BMT yang ada di seluruh Indonesia. (Admin RIB)

Lainnya