Orang tua kita selalu menganjurkan untuk menghabiskan makanan. Dilihat dari sisi manapun, anjuran itu mengandung banyak kebenaran.

Mari kita simak data Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) pada tahun 2018: Sebanyak 49,86% dari total timbunan sampah di Indonesia adalah sampah makanan.

Data tersebut adalah data yang berangkat dari level individu. Ia terkait erat dengan gaya hidup kita, sikap kita, dan seluruh etika kita di hadapan makanan. Di level yang lebih besar, dikenal istilah food loss and waste (FLW), di mana gaya hidup kita hanyalah bagian dari keseluruhan konteks rantai produksi dan konsumsi makanan.

FLW terdiri dari dua hal: food loss dan food waste. Organisasi Pangan Dunia (FAO) mendefinisikan food loss sebagai hilangnya sejumlah bagian pangan pada tahapan produksi, pascapanen, penyimpanan, pemrosesan, serta pengemasan. Sementara itu, food waste adalah pangan yang terbuang pada tahap distribusi dan retail, serta konsumsi.

Menurut FAO, sekitar sepertiga dari makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia di seluruh dunia hilang atau terbuang antara proses panen sampai proses konsumsi. Ini angka yang senyata-nyatanya sangat besar.

Indonesia sendiri, menurut data The Economist Intelligence Unit tahun 2017, disebut sebagai negara peringkat kedua dengan FLW terbesar di dunia setelah Arab Saudi. Indonesia menghasilkan hampir 300 kilogram sampah makanan per orang per hari setiap tahunnya.

Terbaru, Bappenas melaksanakan kajian FLW yang bertujuan mengetahui data dasar (base line) dan proyeksi sampah makanan di Indonesia. Hasil kajian itu menunjukkan, FLW Indonesia dalam rentang 20 tahun terakhir berada dalam kisaran 23 juta ton sampai 48 juta ton per tahun, atau setara 115-184 kilogram/kapita/tahun.

Kerugian ekonomi FLW 20 tahun terakhir adalah setara 4-5 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yaitu sekitar Rp213-551 triliun rupiah per tahun. Sementara, FLW Indonesia juga setara dengan porsi makanan bagi 61 juta sampai 125 juta orang per tahun. Dari sisi emisi gas rumah kaca, FLW menyumbang 1.702,9 megaton setara karbon dioksida (MtCO2e).

“Permasalahan sampah yang dihadapi Indonesia adalah isu kompleks yang memerlukan penanganan secara terintegrasi. Diperlukan kolaborasi aktif seluruh pihak untuk mendiskusikan kontribusi yang dapat dilakukan,” kata Menteri Bappenas Suharso Monoarfa dalam webinar yang diselenggarakan Bappenas, Rabu (9/6/2021).

Dalam pada itu, Suharso menyebut bahwa Bappenas telah mamasang lima strategi pengelolaan sampah makanan di Indonesia. Pertama, membangun pengetahuan FLW kepada seluruh sumber daya manusia yang terlibat dalam rantai pasok pangan, termasuk perubahan perilaku masyarakat.

Kedua, lanjut Suharso, mengembangkan korporasi petani serta mengoptimalkan pendanaan tepat guna untuk penyediaan infrastruktur dan sarana prasarana yang mendukung efisiensi proses pangan. Itu berkaitan dengan strategi ketiga, yakni mengupayakan pengembangan FLW nasional dan regional serta menguatkan koordinasi antarlembaga.

“Sedangkan strategi keempat adalah mendorong pembangunan platform penyaluran makanan serta pengelolaan FLW yang mendukung ekonomi sirkular. Kelima, perlu penguatan database nasional dan regional mengenai FLW melalui kajian dan sensus terkait,” kata Suharso.

“Kolaborasi aktif dari seluruh pihak terkait tentu diharapkan memberikan hasil yang tepat dan konkret untuk masyarakat Indonesia,” lanjutnya.

Pemerintah Indonesia, klaim Suharso, telah memperkuat komitmennya dengan mengadopsi konsep ekonomi sirkular dan kebijakan pembangunan rendah karbon yang tercantum dalam berbagai peraturan termasuk dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2020-2024.

Di samping itu Indonesia juga telah menargetkan 30 persen pengurangan sampah dan 70 persen penanganan sampah pada tahun 2025.

Meski demikian, pada tahun 2019, realisasi tingkat pengurangan sampah Indonesia masih sebesar 14,58 persen dan penanganan sampah masih 34,60 persen. Artinya, masih perlu berbagai upaya untuk mengelola sampah secara baik dan benar.

Selain itu, perlu ditekankan bahwa dukungan pemerintah belum tampak nyata terkait kesadaran pengelolaan lingkungan secara umum. Sampah, yang termasuk di antara sekian masalah besar dalam isu lingkungan, belum mendapat stimulus anggaran yang cukup.

Padahal hasil kajian membuktikan bahwa peningkatan sampah makanan an sich tiap tahun mencapai rerata peningkatan 3,19 persen tiap tahun.

Karena masalah sampah makanan adalah juga terkait pengelolaan sebuah sistem besar, bukan hanya individu yang perlu disadarkan untuk mengelola gaya hidupnya agar lebih efisien dan tidak mubazir.

Perlu pula kesadaran bagi pemimpin baik nasional maupun daerah bahwa sampah makanan merupakan subjek penting yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Lewat salah satunya standardisasi anggaran yang optimal, pengelolaan sampah akan dapat lebih elaboratif. [Ananta Damarjati]