Bukan hanya bisnis besar, UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) juga mengalami goncangan saat diterpa pandemi covid19. Survey yang dilakukan Katadata pada Juni 2020 di Jabodetabek memperlihatkan bahwa 56,8% UMKM berada dalam kondisi buruk akibat pandemi covid19. Hanya 14,1% yang berada dalam kondisi baik. Survey ini juga menemukan bahwa 82,9% UMKM mengalami dampak negatif dari pandemi. Sementara yang merasakan dampak positif hanya 5,9% UMKM. Data ini memperlihatkan bahwa UMKM kita mengalami penurunan dan goncangan akibat pandemi covid19.

Merespon perkembangan UMKM di tengah covid19, Senior Advisor RIB yang juga ekonom UIN Jakarta, Dr. Cand. Murdiyah Hayati, mengatakan bahwa meskipun mayoritas UMKM mengalami dampak buruk dari pandemi ini, namun UMKM ini umumnya bisa cepat bangkit dibandingkan dengan usaha besar. Bahkan, lanjut Hayati, pandemi covid19 menyebabkan lahirnya banyak kreativitas baru dari mereka yang terkena PHK, dan melahirkan inisiasi-inisiasi baru dalam UMKM.

“Banyak dari mereka yang kehilangan pekerjaan, kemudian berinovasi melahirkan bisnis UMKM baru”, tegas Hayati. Karena itu, lanjut Hayati, UMKM yang bergerak dalam berbagai lapangan usaha ini justru menjadi penyelamat ekonomi rakyat dalam kondisi pandemi covid19. Di tengah banyak bisnis besar mengalami kebangkrutan karena daya beli masyarakat yang menurun, UMKM justru banyak tumbuh mengisi kekosongan yang ada.

Hayati tidak menampik bahwa UMKM sendiri menghadapi banyak masalah di saat pandemi covid19 ini, baik dari sisi permodalan, akses perbankan, menurunnya daya beli masyarakat, dan sebagainya. Karena itu, pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah perlu memberi perhatian dalam pemberdayaan UMKM di masa pandemi ini. Menurut Hayati, pemerintah sendiri sudah bekerja bagus dalam pembinaan UMKM, namun kondisi pandemi membuat proses penguatan UMKM ini menjadi terhambat. (Admin RIBnews)