PT BAI (Borneo Alumina Indonesia), anak perusahaan BUMN PT Inalum (60%) dan PT Antam (40)%), sedang membangun Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR Project). PT BAI juga akan mengoperasikan pabrik smelter pengolahan bauksit menjadi aluminium ini. Perusahaan ini membangun lokasi smelter di Desa Bukit Batu, Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Desa ini berada dalam kawasan industri strategis nasional Mempawah yang berlokasi di Kecamatan Sungai Kunyit. Sebanyak 5 desa di kecamatan ini terdampak secara langsung dari proyek strategis nasional ini.

Sebagai sebuah BUMN yang bergerak di industri ekstraktif, PT BAI termasuk perusahaan yang sudah sejak awal memikirkan bagaimana dampak perusahaan kepada masyarakat dan lingkungan hidup di sekitarnya. Dalam pertemuan dengan tim CSR PT BAI beberapa waktu lalu, Direktur RIB Dr. Cand. Yusdi Usman mendiskusikan banyak hal terkait strategi intervensi perusahaan dalam merespon dampak sosial dan lingkungan. Tim CSR PT BAI diwakili oleh Bapak Ari Widodo.

Dalam pertemuan tersebut, Ari Widodo menjelaskan bahwa mereka menggunakan pendekatan SDGs dalam mengelola dampak sosial ekonomi dan lingkungan hidup. “Kami akan menggunakan indikator-indikator SDGs dalam pelaksanaan program CSR kepada masyarakat terdampak”, jelas Ari Widodo. Bahkan, Ari Widodo dan timnya baru saja selesai mengikuti pelatihan tentang CSR di Bandung yang dilaksanakan oleh holding BUMN tambang, yakni MIND ID (Mining Industry Indonesia). Setelah pelatihan, Ari Widodo dan tim CSR PT BAI diarahkan untuk menggunakan indikator SDGs dan ISO 26000 tentang CSR.

Direktur RIB Dr. Cand. Yusdi Usman menyambut baik rencana PT BAI menggunakan pendekatan SDGs dan ISO 26000 dalam mengelola program CSR. Namun demikian, PT BAI sendiri baru memulai proses perencanaan program CSR, karena proyek smelter sendiri masih dalam tahap pembangunan.

Yusdi Usman menyarankan kepada tim CSR PT BAI untuk membangun komunikasi yang bagus dengan masyarakat desa, memperkuat kolaborasi multipihak, serta mengintegrasikan program CSR dengan perencanaan pembangunan desa yang termuat dalam RPJMDes. Hal ini penting untuk mengubah pendekatan sinterklas (bagi-bagi hadiah) yang selama ini banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan ekstraktif lainnya, menjadi pendekatan pemberdayaan. (Admin)